PENDEKATAN BEHAVIORAL DAN KOGNITIF SOSIAL
DALAM PENGAJARAN.
Oleh: Mahdi dan Malik
Konsentrasi Pendidikan Agama Islam
Pascarjana UIN Alauddin Makassar
ABSTRAK
Pendekatan behavioral dan kognitif sosial adalah bagian dari pendekatan dalam ilmu pendidikan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan. Behavioral dikenal dengan pendekatan yang mendalami tentang perilaku dalam hubungan antara stimulus dan respon atas stimulus tersebut yang tidak berkaitan dengan proses mental, dan kognitif sosial mendalami dari segi kognisi, perilakulingkungan murid, termasuk dengan hubungan yang saling mempengaruhi dari ketiga aspek tersebut. Serta hubungan antara kognitif, sosial
Kata kunci: behavioral, perilaku, stimulus, respons, kognitif sosial,unconditioned
conditione.
A. Latar Belakang
Dalam pendidikan, proses yang terjadi tidak hanya sekadar mengajar dan diajar, penyampaian informasi, ataupun sekdar transferilmu dari guru ke murid. Namu. Pendidikan yang sudah menjadi kebutuhan primer dalam setiap kehidupan individu, dengan segala tantangannya dengan perubahan kebutuhan dalam mendidik murid, mengharuskan guru memiliki keahlian dari beberapa aspek untuk melancarkan pembeljaran, mencapai tujuan pembelajaran, hingga ke dalam hal-hal yang substansial dalam perkembangan serta perubahan fisik maupun mental murid. Oleh karena itu pembelajaran juga memiliki mekanisme yang kompleks dengan kebutuhan dari beberapa aspek. Tidak hanya dari aspek penguasaaan materi oleh guru, aspek pedagogik. Lebih dari itu, pembelajaran juga memerlukan strategi, kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam pendidikan, media pembelajaran, hingga psikologi pendidikan. Semua aspek tersebut menjadi aspek yang saling berkolerasi untuk melancarkan, mencapai tujuan pembelajaran hingga tujuan pendidikan itu sendiri.
Dalam aspek Psikologi yang dikenal sebagai psikologi pendidikan, menjadi salah satu kebutuhan bagi pendidikan untuk mengetahui gejala-gejala yang dialami oleh murid untuk dapat menglasifikasi masalah maupun perkembangan dalam belajarnya, oleh karena itu, dalam aspek psikologi pendidikan akan dibahas dalam materi ini mengenai pendekatan behavioral dan kognitif sosial.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang yang telah disebutkan pada pembahasan di atas, maka beberapa problem yang perlu diketahui dalam materi ini kemudian diambil menjadi rumusan masalah sebagaimana berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial?
2. Siapa penggagas teori Behavioral dan kognitif sosial?
3. Apa yang membedakan pendekatan behavioral dengan kognitif sosial?
C. Pendekatan Behavioral
Behavioral adalah pendekatan pembelajaran yang akan didiskusikan dalam makalah ini. Sedangkan behaviorisme adalah pandangan yang menyetakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Kaum behavioral menyatakan bahwa perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung seperti anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid mengganggu murid lain, dan lain sebagainya.
Proses mental didefinisikan oleh para psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang dialami tetapi tidak bisa dilihat oleh orang lain. Meskipun semua itu tidak dapat terlihat, namun semuanya adalah sesuatu yang riil. Proses mental antara lain adalah pemikiran anak tentang cara membuat poster, perasaan senang guru terhadap muridnya, dan motivasi anak untuk mengontrol perilaku.[1]
Behavioris berpendapat bahwa pemikiran, perasaan, dan motif bukanlah subjek yang tepat untuk ilmu perilaku karena semuanya itu tidak dapat diobservasi secara langsung. Pandangan behavioral, yaitu pengondisian klasik dan operan merupakan pandangan yang menekankan pembelajaran asosiatif (assosiative learning) yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait (assosiative)[2]. Misalnya, pembelajaran asosiatif terjadi ketika murid mengasosiasikan atau mengaitkan kejadian yang menyenangkan dengan suatu pembelajaran di sekolah., seperti guru tersenyum saat murid mengajukan pertanyaan yang bagus. Diskusi analisis perilaku terapan juga mencerminkan pandangan behavioral yang fokus pada perilaku yang dapat diamati dan pembelajaran asosiatif.
Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku, pendekatan behavioris dikenal dengan dua tipe:
1. Pengondisian klasik
Pengondisian klasik adalah tipe pembelajaran yang suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. Dalam pengondisian klasik, stimulus netral (seperti melihat orang) diasosisasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama. Untuk memahami pengondisian klasik, harus dipahai dua tipe stimulus dan respons. Yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), coonditioned response (CR). Adapun keempat-empatnya akan dijelaskan berserta contohnya sebagaimana yang dieksperimenkan oleh Pavlov sebagai berikut:
a. unconditioned stimulus (US)
Unconditioned stimulus (US) adalah suatu stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa adanya pembelajaran terlebih dahulu. Sebagaimana pada eksperimen yang dilakukan Pavlov, contohnya adalah makanan yang diberikan kepada anjing. Makanan pada kasus ini adalah substansi dari unconditioned stimulus (US).
b. unconditioned response (UR)
Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh Unconditioned stimulus (US). Berkaitan dengan contoh makanan yang diberikan kepada anjing, maka hal tersebut akan mengakibatkan anjing mengeluarkan air liur. Proses keluarnya air liur itu adalah respons terhadap makanan, dan respons tersubut tidak dipelajari oleh anjing dan secara otomatis terjadi pada anjing sebagai respons terhadap makanan.
c. conditioned stimulus (CS)
Conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response (CR) setelah diasosiasikan dengan Unconditioned stimulus (US). Diantara stimulus yang terkondisikan sebagai contoh dalam eksperimen adalah beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum menyantap makanan, seperti lonceng yang selalu dibunyikan sebelum makanan ditempatkan di piring anjing.[3]
d. conditioned response (CR)
Conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari terhadap stimulus (yang terkondisikan oleh US dan CS) yang muncul.. Eksperimen tersebut menghasilkan munculnya conditioned response (CR) pada anjing dengan mengeluarkan air liur setelah mendengar lonceng berbunyi.
2. Pengondisian operan
Pengondisian operan yang bisa juga disebut pengondisian instrumental adalah bentuk pembelajaran yang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas dalam perilaku itu akan diulangi. Arsitek utama dari pengondisian operan adalah B.F. Skinner yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L. Thorndike.
Pengondisian operan ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, hukum efek. Yaitu hukum yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil negatif akan diperlemah. Pernyataan utamanya Thorndike adalah bagaimana respons stimulus yang benar (S-R) ini menguat dan akhirnya mengalahkan respons stimulus yang tidak benar. Asosiasi S-R yang tepat akan diperkuat, dan asosiasi yang tidak tepat akan melemah karena konsekuensi dari tindakan organisme. Pandangan ini disebut oleh Thorndik sebagai teori S-R karena perilaku organisme dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons.[4]
Kedua, penguatan (imbalan) dan hukuman, yaitu konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Contohnya ketika dikatakan kepada murid “selamat, saya merasa senang setelah membaca cerita yang kalian tulis.” Jika murid bekerja lebih baik lagi untuk cerita selanjutnya, komentar positif yang murid dapatkan merupakan penguat atau memberi imbalan pada perilaku menulis murid. Jika diberikan ekspresi mengerut pada murid yang bicara di kelas dan kemudian perilaku bicara itu menurun, maka muka yang mengerut itu merupakan hukuman bagi tindakan si murid.
Ketiga, penguatan. Pada prinsipnya penguatan memiliki dua sisi, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif berdasarkan prinsip bahwa frekuensirespons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Sedangkan penguatan negatif berdasarkanprinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan).
D. Pendekatan Kognitif Sosial
Kognitif sosial pendekatan yang menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan. Faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tua.
Salah satu penggagas teori ini adalah Albert Bandura. Dia mengayakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat merepresentasikan atau mentransformasikan pengalaman mereka secara kognitif.
Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama. Yaitu, perilaku, person/kognitif, dan lingkungan. Faktor-faktor ini saling berinteraksi untuk memengaruhi pembelajaran. Faktor lingkungan memengaruhi perilaku. Sebaliknya, perilaku memengaruhi lingkungan. Faktor person/kognitif memengaruhi perilaku, dan sebaliknya. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran, dan kecenderungan.
Perhatikan bagaimana model Bandura dalam kasusu perilaku akademik murid sekolah menengah yang bisa disebut sebagai Nila.
1. Kognisi memengaruhi perilaku. Nila menyusun strategi kognitif untuk berfikir secara lebih mendalam dan logiss tentang bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah. strategi kognitif meningkatkan perilaku akademik.
2. Perilaku memengaruhi kognisi. Proses (periaku) belajar Nila membuatnya mendapat nilai baik, yang pada gilirannya menghasilkan ekspektasi positif tentang mendapat kemampuannya dan membuat dirinya percaya diri (kognisi).
3. Lingkungan memengaruhi perilaku. Sekolah tempat belajar Nila baru-baru ini membangun program prconrohan keterampilan-belajar untuk mebantu murid belajar cara membuat catatan, mengeola waktu, dan mengerjakan ujian secara lebih efisien. Program keterampilan belajar ini meningkatkan perilaku akademik Nila.
4. Perilaku memengaruhi lingkungan. Program keterampilan belajar berhasil meningkatkan perilaku akademik banyak murid di kelas Nila. Perilaku akademik yang meningkat ini memicu sekolah untuk mengembangkan program itu sehingga semua murid di sekolah itu bisa turut serta.
5. Kognisi memengaruhi lingkungan. Ekspektasi dan perencanaan dari kepala sekolah dan para guru meningkatkan program keterampilan-belajar itu terwujud.
6. Lingkungan memengaruhi kognisi. Sekolah tersebut mendirikan pusat sumber daya di mana murid dan orant tua dapat mencari buku dan materi tentang peningkatan keterampilan belajar. Pusat belajar ini juga memberikan layanan tutoring keterampilan belajar untuk murid. Nila dan orang tuanya memetik keuntungan dari itu toring dan pusat sumber daya ini. Layanan ini meningkatkan keterampilan berfikir Nila.
E. Penutup
1. Behavioral dan kognitif sosial memiliki pengertian yaitu Pendekatan behavioral dan kognitif sosial adalah bagian dari pendekatan dalam ilmu pendidikan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan.
2. Dalam pendekatan behavioral memiliki dua tipe yaitu: pengondisian klasik dan pengondisian operan. sedangkan kognitif sosial memiliki beberapa faktor yang saling kerkolerasi, Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama. Yaitu, perilaku, person/kognitif, dan lingkungan.
3. Penggagas pendekatan behavioral Pavlov dan kognitif sosial adalah Bandura, dia mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama. Yaitu, perilaku, person/kognitif, dan lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar